Skip to content

Ilustrasi

Maret 23, 2012

Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?” Sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat. tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita (1 Korintus 15:55-57)

Suatu ketika, terbentuklah janin dua anak laki-laki kembar. Minggu-minggu berlalu dan dan kedua anak kembar itu tumbuh. Ketika kesadaran mereka tumbuh, mereka tertawa gembira: “Bukankah luar biasa bahwa kita telah terbentuk? Bukankah luar biasa kita hidup?’

Bersama-sama mereka menjelajahi dunianya. Ketika mereka menemukan tali ibunya yang memberi mereka hidup, mereka bernyanyi ria. Namun kedua anak itu merasakan mereka berubah.

“Apa artinya ini?” Tanya yang satu.

“Ini berarti keberadaan kita di dunia ini akan berakhir.” Kata yang lain.

“Tetapi aku tak mau pergi,” kata yang satu. “Aku ingin terus berada di sini.”

“Kita tak ada pilihan,” kata yang lain.

“Tetapi barangkali ada kehidupan setelah kelahiran.”

“Tetapi bagaimana mungkin?” Sanggah yang lain.

“Kita akan lepas dari tali kehidupan kita dan bagaimana mungkin hidup tanpa itu? Selain itu, orang lain sebelum kita tak ada yang kembali memberi tahu kita bahwa ada kehidupan setelah kelahiran. Tidak, ini adalah suatu akhir. Mungkin tak ada ibu sama sekali.”

“Tetapi harus ada,” bantah yang lain. “Bagaimana kita bisa berada di sini? Bagaimana kita bisa hidup?”

“Pernahkah kita melihat ibu kita?” Tanya yang satunya lagi. “Mungkin dia hanya ada di pikiran kita. Mungkin kita dibentuk oleh gagasan membuat kita kelihatannya baik.”

Maka hari-hari terakhir di dalam rahim itu dipenuhi berbagai pertanyaan dan kecemasan. Akhirnya, waktu kelahiran tiba. Ketika anak kembar itu keluar dari dunianya, mereka membuka mata dan berteriak dengan riang – karena yang dilihatnya melebihi impian terindah mereka, dilihatnya wajah ibunya yang tersenyum penuh kasih. Itulah kematian yang dialami orang Kristen.

Tetapi seperti ada tertulis: “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.” ( 1 Korintus 2:9).

Seorang nenek membawa cucunya ke pantai. Mereka bersenang-senang di situ ketika suatu ombak besar datang menyeret anak kecil itu ke tengah laut. Nenek itu berlutut dan berdoa, “Mohon kembalikan cucuku — itu saja permohonanku! Mohon!!!”

Tak lama kemudian, ajaib, suatu gelombang datang dari laut mendamparkan anak kecil itu ke pantai, basah, tetapi tak mengalami cedera apapun. Namun nenek itu tetap menengadah ke langit sambil marah berkata, “Ketika kami datang ia memakai topi!”

Kita mengharapkan nenek itu bersyukur untuk hal luar biasa yang terjadi. Kita diajar untuk menunjukkan rasa syukur kita untuk segala kebaikan yang kita terima. Tetapi, dapatkah kita bersyukur bila sesuatu berjalan tidak menurut keinginan kita? Lebih lagi, haruskah kita?

Beberapa tahun yang lalu, seseorang mencuri dompet isteri saya. Ketika sedang sibuk mengurus penggantian KTP dan kartu-kartu lainnya yang hilang, saya teringat kata-kata penulis Matthew Henry. Henry juga pernah dirampok. Tetapi ia justeru bersyukur atas kejadian itu. Ia berkata, “Saya berterima kasih bahwa saya belum pernah dirampok sebelum ini; dan walaupun ia mengambil dompet saya, ia tidak membunuh saya; walaupun ia mengambil semuanya, itu tidak terlalu banyak; dan akhirnya untung saya yang dirampok bukan saya yang merampok.” Ia boleh jadi berkata juga, “Terima kasih untuk kesusahan ini!”

Akhirnya, kita tak akan merasa susah bila kita selalu sibuk bersyukur.

ILUSTRASI kristen: ARTI KEHIDUPAN

Ada seorang Ayah dalam sebuah keluarga. Ia adalah seorang pekerja keras yang mencukupi seluruh kebutuhan hidup bagi istri dan ketiga anaknya. Ia menghabiskan malam sesudah bekerja dengan menghadiri kursus-kursus, untuk mengembangkan dirinya dengan harapan suatu hari nanti dia bisa mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang lebih baik.

Kecuali hari Minggu, sang Ayah sangat susah untuk bisa makan bersama-sama keluarganya. Dia bekerja dan belajar sangat keras karena dia ingin menyediakan keluarganya apa saja yang bisa dibeli dengan uang.

Setiap kali keluarganya mengeluh kalau dia tidak punya cukup waktu dengan mereka, dia selalu beralasan bahwa semuanya ini dilakukan untuk mereka. Tetapi seringkali juga, dia sangat berkeinginan untuk menghabiskan waktu bersama keluarganya.

Suatu hari tibalah saatnya hasil ujian diumumkan. Dengan sangat gembira, sang Ayah ini lulus, dengan prestasi gemilang pula! Segera sesudah itu, dia ditawarkan posisi yang baik sebagai Senior Supervisor dengan gaji yang menarik.

Seperti mimpi yang menjadi kenyataan, sekarang sang Ayah mampu memberikan keluarganya kehidupan yang lebih mewah, seperti pakaian yang indah-indah, makanan-makanan enak dan juga liburan ke luar negeri.

Namun, keluarganya masih saja tidak bisa bertemu dengan sang Ayah hampir dalam seluruh minggu. Dia terus berkerja sangat keras, dengan harapan bisa dipromosikan ke jabatan Manager. Nyatanya, untuk membuat dirinya calon yang cocok untuk jabatan itu, dia mendaftarkan diri pada kursus lain di Universitas Terbuka. Lagi, setiap saat keluarganya mengeluh kalau sang Ayah tidak menghabiskan cukup waktu untuk mereka, dia beralasan bahwa dia melakukan semua ini demi mereka.

Tetapi, seringkali lagi dia sangat berkeinginan untuk menghabiskan lebih banyak waktu lagi dengan keluarganya.

Kerja keras Sang Ayah berhasil dan dia dipromosikan. Dengan penuh sukacita, dia memutuskan untuk memperkerjakan seorang pembantu untuk membebaskan istrinya dari tugas-tugas rutinnya. Dia juga merasa kalau flat dengan tiga kamar sudah tidak cukup besar lagi, akan sangat baik untuk keluarganya bisa menikmati fasilitas dan kenyamanan sebuah kondominium.

Setelah merasakan jerih payah kerja kerasnya selama ini, sang Ayah memutuskan untuk lebih jauh lagi belajar dan bekerja supaya bisa dipromosikan lagi. Keluarganya masih tidak bisa sering bertemu dengan dia. Kenyataannya, kadang-kadang sang Ayah harus bekerja di hari Minggu untuk menemani tamu-tamunya.

Lagi, setiap kali keluarganya mengeluh kalau dia tidak menghabiskan cukup waktu dengan mereka, dia beralasan kalau semua ini dilakukan demi mereka. Tetapi, seringkali lagi dia sangat berkeinginan untuk menghabiskan lebih banyak waktu dengan keluarganya.

Seperti yang diharapkan, kerja keras sang Ayah berhasil lagi dan dia membeli sebuah kondominium yang indah yang menghadap ke pantai.

Pada malam pertama di rumah baru mereka, sang Ayah mengatakan kepada keluarganya bahwa dia memutuskan untuk tidak mau mengambil kursus dan mengejar promosi-promosi lagi. Sejak saat itu dia ingin memberikan lebih banyak waktu lagi untuk keluarganya.

Namun, sang Ayah tidak bangun-bangun lagi keesokan harinya …..

Pertanyaan untuk Refleksi: Apakah anda bekerja untuk hidup atau hidup untuk bekerja? (Anonim)
 

BIARLAH YANG MISKIN BERKATA, “AKU KAYA!”

Suatu hari, ayah dari suatu keluarga yang sangat sejahtera membawa anaknya bepergian ke suatu negara yang sebagian besar penduduknya hidup dari hasil pertanian, dengan maksud untuk menunjukkan bagaimana kehidupan orang-orang yang miskin.

Mereka menghabiskan waktu berhari-hari di sebuah tanah pertanian milik keluarga yang terlihat sangat miskin. Sepulang dari perjalanan tersebut, sang ayah bertanya kepada anaknya, “Bagaimana perjalanan tadi?”

“Sungguh luar biasa, Pa.”

“Kamu lihat kan bagaimana kehidupan mereka yang miskin?” tanya sang ayah.

“Iya, Pa,” jawabnya.

“Jadi, apa yang dapat kamu pelajari dari perjalanan ini?” tanya ayahnya lagi.

Si anak menjawab, “Saya melihat kanyataan bahwa kita mempunyai seekor anjing sedangkan mereka memiliki empat ekor. Kita punya sebuah kolam yang panjangnya hanya sampai ke tengah-tengah taman, sedangkan mereka memiliki sungai kecil yang tak terhingga panjangnya. Kita memasang lampu taman yang dibeli dari luar negeri dan mereka memiliki bintang-bintang di langit untuk menerangi taman mereka.

Beranda rumah kita begitu lebar mencapai halaman depan dan milik mereka seluas horison. Kita tinggal dan hidup di tanah yang sempit sedangkan mereka mempunyai tanah sejauh mata memandang. Kita memiliki pelayan yang melayani setiap kebutuhan kita tetapi mereka melayani diri mereka sendiri. Kita membeli makanan yang akan kita makan, tetapi mereka menanam sendiri. Kita mempunyai dinding indah yang melindungi diri kita dan mereka memiliki teman-teman untuk menjaga kehidupan mereka.”

Dengan cerita tersebut, sang ayah tidak dapat berkata apa-apa. Kemudian si anak menambahkan, “Terima kasih, Pa, akhirnya aku tahu betapa miskinnya diri kita.”

Terlalu sering kita melupakan apa yang kita miliki dan hanya berkonsentrasi terhadap apa yang tidak kita miliki. Kadang kekurangan yang dimiliki seseorang merupakan anugerah bagi orang lain. Semua berdasar pada perspektif setiap pribadi. Pikirkanlah apa yang akan terjadi jika kita semua bersyukur kepada Tuhan atas anugerah yang telah disediakan oleh-Nya bagi kita daripada kuatir untuk meminta lebih lagi. (Anonim)           
 
    

 

ILUSTRASI: BERMIMPI

Ada seorang gadis kecil berdiri di pinggir keramaian selagi ayahnya memberikan suatu kesaksian tentang apa yang telah diperbuat Tuhan Yesus dalam hidupnya. Dia menyaksikan bagaimana Tuhan telah menyelamatkan dia dan menarik dia dari gaya hidupnya sebagai seorang pemabuk.

Pada hari itu ada seorang sinis yang berdiri di antara kerumunan tersebut yang tidak tahan lagi mendengar segala omong kosong tentang agama tersebut. Dia berteriak, “Kenapa anda tidak duduk dan diam saja, orang tua. Anda hanyalah bermimpi.”

Tak beberapa lama, orang skeptik ini merasa ada tarikan di lengan jaketnya. Dia menoleh ke bawah dan ternyata itu adalah gadis kecil ini. Anak itu menatapnya lekat-lekat dan berkata, “Tuan, itu adalah ayah saya yang anda bicarakan. Anda mengatakan ayah saya seorang pemimpi? Biar saya ceritakan kepada ada tentang ayah saya.

“Ayah saya dulu seorang pemabuk dan malam-malam pulang ke rumah, dan memukuli ibu saya. Ibu menangis sepanjang malam. Dan Tuan, kami tidak memiliki pakaian-pakaian bagus untuk dipakai karena ayah saya membelanjakan seluruh uangnya untuk whiski. Kadang-kadang saya bahkan tidak memiliki sepatu untuk dikenakan ke sekolah. Tapi lihatlah sepatu dan baju ini! Ayah saya mempunyai pekerjaan yang baik sekarang!”.

Lalu sambil menunjuk ke suatu arah, dia mengatakan, “Apakah anda melihat seorang wanita yang sedang tersenyum di sana? Itu adalah ibu saya. Dia tidak menangis sepanjang malam lagi sekarang. Sekarang dia menyanyi.”

Kemudian suatu pukulan yang hebat. Anak itu berkata, “Yesus telah merubah ayah saya. Yesus telah merubah rumah kami. Tuan, jika ayah saya sedang bermimpi, tolong jangan bangunkan dia!” (Anonim)
 

 

ILUSTRASI: WARNA CAT IMAN

Seorang pria yang sedang duduk termenung sambil memandangi pagar halaman rumahnya, sedang berpikir untuk membuat agar pagar halamannya tidak kelihatan kusam dan kotor. Setelah menyiapkan segala sesuatunya ia mulai memoles pagar halaman rumahnya, dipolesnya dengan warna putih.

Setelah selesai ia memandangi hasil pekerjaannya, ia begitu menyukai warna pagar halaman tersebut, putih bersih dan memberi kesan sejuk serta bersinar. Namun hanya beberapa hari kemudian ketika ia keluar dari dalam rumahnya, ia sangat terkejut. Pagar halamannya dipenuhi oleh noda-noda hitam yang berasal dari kotoran burung-burung.

Kembali ia berpikir dan mencari cara agar pagar halamannya tidak terpengaruh oleh noda-noda atau kotoran. Setelah mempersiapkan segala sesuatu, maka ia mulai lagi mewarnai pagar halamannya dengan warna yang baru; diwarnainya dengan warna hitam.

Setelah selesai, ia memandangi hasil pekerjaannya dan berkata di dalam hatinya: “Sebanyak apapun kotoran burung-burung atau noda yang menempel pastilah tidak akan kelihatan lagi”.

Namun hanya beberapa hari kemudian, ia kembali terkejut ketika melihat pagar halamannya. Pagar halamannya tidak lagi berwarna hitam, seekor kerbau yang penuh dengan lumpur menggosok-gosokkan badannya pada pagar halaman tersebut dan sinar matahari menjadikan lumpur tersebut kering sehingga menjadi berwarna putih.

Kadang kala sebagai orang percaya Anda berpikir, dengan iman yang sekarang, ahh… betapa indahnya; penuh dengan semangat, keceriaan sukacita menyala-nyala, serasa Allah sangat dekat sekali. Tanpa ada usaha untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian-ujian yang harus dilewati. Sehingga saat ujian-ujian atau pencobaan yang datang dan menghantam iman, mengakibatkan kerusakan yang dahsyat. Kembali jatuh, kembali jatuh dan seterusnya jatuh.

Kemudian berpikir: “Saya harus begini atau begitu agar tidak jatuh dalam pencobaan”. Sering sekali berusaha mengubah “warna cat iman” agar dapat menghindar dari ujian, lari dari ujian. Yach… berusaha lari dari ujian bukan berusaha mengadapinya dan bertahan untuk menang.

Tanpa sadar, sering berusaha memecahkan permasalahan iman dengan logika dan rasio, mengandalkan kekuatan sendiri, mengandalkan hikmat sendiri, dan mengandalkan pengertian sendiri. Allah tidak dilibatkan didalamnya, sehingga untuk setiap pencobaan/ujian yang datang selalu mengalami kekalahan dan kemudian berusaha mengubah “warna cat iman“ , agar orang melihat warna yang indah dari iman tersebut tetapi merupakan warna yang semu.

Banyak waktu yang dipakai hanya untuk mengubah “warna cat iman”, hari-hari berlalu tanpa adanya penyerahan diri yang penuh kepada Allah sehingga, kekecewaan, kegagalanlah yang menjadi bagian akhir dari hidup ini. (Kiriman: Handra – harry@mediamanager.co.id)

 

Kisah Tiga Pohon

Link: Dipakai Tuhan, rencana Tuhan

Suatu kali peristiwa ada tiga pohon di atas sebuah bukit dalam sebuah hutan. Mereka sedang berbincang-bincang tentang harapan-harapan dan mimpi-mimpi mereka.
Pohon yang pertama berkata, Suatu hari nanti aku berharap bisa menjadi sebuah kotak tempat penyimpanan harta. Aku bisa dihiasi dengan ukiran-ukiran yang rumit, setiap orang akan melihat kecantikanku. Kemudian pohon yang kedua berkata, Suatu hari nanti aku akan menjadi sebuah kapal yang besar.Aku akan membawa para raja dan ratu mengarungi lautan sampai ke ujung-ujung bumi. Setiap orang akan merasa aman dalamku karena kekuatan dari tubuhku. Akhirnya pohon yang ketiga berkata, Aku ingin tumbuh menjadi pohon yang tertinggi terkuat di hutan ini. orang akan memandangku dari atas puncak bukit dapat melihat carang-carangku. Kalau orang berpikir ttg surga Allah betapa dekatnya jangkauanku ke sana.Aku akan menjadi pohon yang terbesar di sepanjang waktu orang akan mengingat aku senantiasa.
Setelah beberapa tahun berdoa mimpi mereka menjadi kenyataan, datanglah satu kelompok penebang kayu ke hutan itu. Ketika seorang penebang kayu menghampiri pohon pertama ia berkata, Kelihatannya pohon ini kuat sekali, aku kira ini dapat dijual kepada seorang tukang kayu dan ia mulai menebang pohon itu. Pohon tersebut bahagia sekali karena ia tahu bahwa si tukang kayu akan menjadikannya sebuah peti penyimpan harta. Seorang penebang kayu lainnya berkata kepada pohon yang kedua, Kelihatannya pohon ini kuat aku dapat menjualnya kepada tukang pembuat kapal. Pohon tersebut bahagia karena ia tahu ia akan menjadi sebuah kapal yang besar. Ketika seorang penebang kayu menghampiri pohon yang ketiga, pohon tersebut ketakutan karena ia tahu kalau ia sampai ditebang., maka mimpinya tdk akan menjadi kenyataan. Salah seorang penebang kayu berkata, Aku tdk perlu sesuatu yang spesial dari pohon ini jadi aku bawa saja ditebanglah pohon itu.
Ketika pohon pertama dibawa kepada tukang kayu, ia dijadikan sebuah kotak tempat makanan hewan. Ia diletakkan di sebuah kandang dipenuhi dgn jerami. Hal ini bukanlah seperti yang pohon tersebut doakan. Pohon kedua dipotong-potong dijadikan sebuah perahu kecil pemancing ikan. Mimpinya menjadi sebuah kapal yang besar yang dpt membawa para raja berakhir sudah.Pohon ketiga dipotong-potong dalam ukuran yang besar-besar ditinggali begitu saja dalam kegelapan.
Tahun demi tahun berlalu pohon-pohon tersebut sudah lupa akan mimpi mereka. Suatu hari ada seorang pria wanita datang ke kandang tersebut. Si wanita melahirkan seorang bayi meletakkan bayi tersebut dalam kotak makanan hewan (yang dibuat dari pohon pertama) yang dipenuhi jerami. Si pria berharap mendapatkan tempat tidur utk bayi tersebut tapi palungan itulah yang menjadi tempatnya. Pohon tersebut dapat merasakan betapa penting peristiwa tersebut ia telah menyimpan harta yang termulia sepanjang jaman.
Tahun-tahun berikutnya, sekelompok orang berada dalam sebuah perahu pemancing ikan dibuat dari pohon yang kedua. Salah seorang dari mereka sedang kelelahan akhirnya tertidur. Ketika mereka ada di tengah-tengah laut, gelombang besar melanda mereka pohon tersebut tdk menyangka kalau ia cukup kuat utk menyelamatkan orang-orang yang ada dalam perahu tersebut. Orang-orang tersebut membangunkan orang yang sedang tidur itu, kemudian ia berdiri sambil berkata diam, tenanglah gelombang tersebut berhenti. Kali ini pohon tersebut menyadari bahwa ia telah membawa raja diatas segala raja dalam perahunya.
Akhirnya ada seorang datang mendapatkan pohon yang ketiga. Pohon tersebut diseret sepanjang jalan banyak yang mengejek orang yang sedang memikul kayu tersebut. Ketika mereka sampai pada suatu tempat, orang tersebut dipakukan pada kayu tersebut diangkat tinggi sampai mati di atas sebuah puncak bukit. Ketika hari Minggu tiba, pohon tersebut menyadari bahwa ia cukup kuat utk tegak berdiri diatas puncak berada sedekat mungkin dgn Allah karena Yesus telah disalibkan pada kayu pohon tersebut.
Catatan:
Ketika segala rencana tdk sesuai dgn apa yang kita harapkan, selalu ingat bahwa Allah punya rencana utk saudara. Kalau kita menaruh percaya padaNya, Ia akan memberi saudara karunia-karunia besar. Masing-masing pohon tersebut mendapatkan apa yang mereka ingini, cuma tdk seperti yang mereka bayangkan.
 

Milik Siapa?

Nats : Apabila seseorang berbuat dosa … terhadap TUHAN, dan memungkiri … barang yang dirampasnya, … maka haruslah ia memulangkan barang yang telah dirampasnya (Imamat 6:2,4)
Bacaan : Imamat 6:1-7

Seorang pencuri di New Jersey melakukan pencurian sebanyak 7.000 dolar dalam bentuk perhiasan, koin kuno, dan uang tunai dari seorang janda. Semua barang yang dicuri tersebut merupakan barang-barang peninggalan suaminya yang masih tersisa.

Saat memilah-milah barang curiannya, pencuri itu menemukan beberapa amplop persembahan gereja berisi uang yang akan dipersembahkan wanita itu kepada Tuhan. Tanpa melihat isinya terlebih dahulu, pencuri itu langsung memasukkan semuanya ke dalam amplop lain, menuliskan alamat, lalu mengirimkannya ke gereja wanita itu.

Ketika sang pendeta tahu apa yang telah terjadi, ia berkomentar, “Ini adalah ciri khas kebingungan moral zaman ini. Orang berpikir bahwa mencuri dari janda dan anak-anak dianggap tidak apa-apa, sementara mencuri dari gereja dianggap tindakan tercela.”

Pencuri itu mengabaikan satu kebenaran penting: Dosa terhadap sesama adalah dosa terhadap Allah (Imamat 6:2). Saya khawatir kita semua cenderung berpikir bahwa batas harta kepunyaan Allah berakhir di belakang gereja. Namun, sebenarnya tidaklah demikian. Segala harta benda di dunia ini dan setiap orang adalah kepunyaan Allah. Jika kita menghormati Dia, itu berarti kita juga harus menghormati harta benda yang telah dipercayakan Allah kepada anak-anak-Nya.

Orang yang takut akan Allah dan yang menyadari bahwa berbuat dosa terhadap sesama berarti berdosa terhadap Dia adalah seorang yang bijaksana —Mart De Haan II

KEJAHATAN TERHADAP SESAMA ANDA
MENCIPTAKAN PAGAR PEMISAH ANTARA ANDA DAN ALLAH
5 Desember 2002
Menolak Jalan yang Mudah

Nats : Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya (Daniel 1:8)
Bacaan : Daniel 1:1-8

Dari balik jendela pesawat terbang, Anda dapat melihat alur sungai yang berkelok-kelok di bawah Anda. Semua sungai, kecuali sungai buatan manusia, memiliki satu kesamaan yaitu semuanya berkelok- kelok. Penyebabnya sederhana saja. Sungai-sungai itu mengikuti alur yang paling sedikit hambatannya. Sungai-sungai tersebut berbelok untuk menghindari apa saja yang menghalangi lajunya air untuk mencari jalan yang lebih mudah.

Sebagian orang juga melakukan hal yang sama. Karena gagal melawan iblis, mereka menyerah pada godaan dan menyimpang dari jalan yang direncanakan Allah bagi mereka. Tidak seperti Daniel yang “berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya” (Daniel 1:8), mereka malah tunduk pada tekanan-tekanan dunia dan berkompromi terhadap apa yang mereka anggap benar.

Dalam tulisannya kepada para pengikut Kristus, Yohanes mengatakan bahwa kita dapat memenangkan pergumulan kita melawan kejahatan, sebab “Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar daripada roh yang ada di dalam dunia” (1 Yohanes 4:4). Bukannya ditaklukkan, tetapi kita bisa menjadi penakluk. Tak satu pun yang dapat menghalangi kita untuk melalui jalur yang sudah ditetapkan Allah bagi kita. Kita tidak boleh menyerah pada godaan atau musuh apa pun. Roh Kudus yang tinggal di hati kita akan menguatkan kita sehingga kita dapat tetap berdiri teguh.

Jalan kita tidak akan “bengkok” jika kita memtuskan untuk tidak mengikuti begitu saja alur yang paling sedikit hambatannya -Richard De Haan

Dukacita Tak Terduga

Nats : Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan (2Korintus 1:3)
Bacaan : 2Korintus 1:3-11

Sejak tahun 1988 saya senang bisa menulis beberapa artikel Renungan Harian setiap bulan. Saya mendapat banyak berkat ketika menyelami Kitab Suci, mengulas kehidupan, dan memberi pertolongan rohani melalui penerbitan ini.

Namun, pada tangal 6 Juni 2002 saya merasa tak bisa lagi memberi pertolongan rohani. Pada hari terakhirnya di sekolah menengah, Melissa, anak perempuan kami yang berusia 17 tahun, meninggal dalam kecelakaan mobil.

Sekejap, peristiwa itu menjadi ujian atas segala yang kami ketahui mengenai Allah, Alkitab, dan surga. Kami membutuhkan komunitas kristiani untuk menumbuhkan kembali harapan kami, saat kami harus menyaksikan pemakaman anak perempuan kami yang telah menyentuh sedemikian banyak orang dengan senyum, kesalehan, cinta terhadap kehidupan, dan perhatiannya kepada orang lain.

Saya tak bisa menulis selama berminggu-minggu. Apa yang dapat saya sampaikan? Bagaimana saya bisa menemukan kata-kata untuk membantu orang lain saat keluarga saya–saat saya sendiri–sangat membutuhkan dukungan?

Kini, berbulan-bulan sesudahnya, saya mulai menulis lagi. Dan saya bisa mengatakan bahwa Allah tidak berubah. Dia tetaplah Bapa surgawi yang penuh kasih, “Allah sumber segala penghiburan” (2 Korintus 1:3). Dia tetap Allah yang menjadi sumber harapan saat menghadapi dukacita yang tak terduga. Saya menulis tentang Dia dengan kesadaran baru bahwa saya membutuhkan jamahan-Nya, kasih-Nya, kekuatan-Nya. Saat hati saya hancur, saya menulis tentang Dia, satu-satunya Pribadi yang bisa membuat kita utuh kembali–Dave Branon

KETIKA ALLAH MENGUJI KITA
DIA PUN MENYEDIAKAN PENGHIBURAN
9 November 2003
Masalah Hidup dan Mati

Nats : Masa hidup kami tujuh puluh tahun … sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap (Mazmur 90:10)
Bacaan : Mazmur 90:1-10

Dengan mengubah gen pengendali penuaan, para ilmuwan yakin mereka dapat memperpanjang batas rata-rata usia manusia hingga 100 tahun menjelang akhir abad ini. Ini akan melampaui usia 70 tahun yang dinubuatkan dalam Mazmur 90:10. Namun, seandainya manusia memang dapat hidup lebih lama, bab terakhir dalam “buku kehidupan” masih tetap terbaca demikian, “sebab berlalunya buru-buru” (ayat 10).

Musa, penulis Mazmur 90, hidup hingga 120 tahun. Ia melihat kematian sebagai hal yang tak terelakkan di dunia yang telah dikutuk karena dosa. Namun, ia tidak pesimis. Ia memohon supaya Allah mengajarinya menghitung hari-hari supaya dapat beroleh “hati yang bijaksana” (ayat 12). Ia ingin dikenyangkan oleh kasih setia Allah supaya dapat bersukacita dan bersorak-sorai (ayat 14). Ia juga meminta supaya Allah menunjukkan kemuliaan-Nya kepada generasi yang akan datang (ayat 16). Begitulah cara Musa menghadapi realitas kematian, beberapa ribu tahun silam.

Seperti semua orang sejak Adam dan Hawa, kita menderita sebagai akibat dosa, dan kematian menjadi suatu kepastian (Roma 6:23). Namun, kita dapat hidup dengan pengharapan dan sukacita, karena Allah mengutus Putra-Nya untuk mati bagi dosa-dosa kita. Yesus menaklukkan maut saat bangkit dari kubur. Dan jika kita menerima-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi, kita pun dapat mengalami pengampunan Allah dan menanti untuk dapat bersama-sama dengan Dia di surga selamanya. Apakah Anda sudah menghadapi dan menyelesaikan masalah hidup dan mati ini? –Dennis De Haan

ANDA TIDAK AKAN SIAP UNTUK HIDUP
SEBELUM ANDA SIAP UNTUK MATI
18 Desember 2003
Mereka Mengerti

Nats : [Allah] yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur mereka, yang berada dalam bermacam- macam penderitaan (2Korintus 1:4)
Bacaan : 2 Korintus 1:3-11

Beberapa hari sebelum Natal, kami menerima sebuah karangan bunga yang indah beserta kartu ucapan yang berbunyi, “Turut mengenang kehilangan yang Anda alami dan semoga Natal serta Tahun Baru Anda beserta keluarga penuh berkat. Teriring kasih dan doa, Dave dan Betty.”

Tujuh bulan yang lalu, saudara perempuan saya, Marti, dan suaminya, Jim, meninggal dalam kecelakaan lalu lintas. Ini adalah Natal pertama kami tanpa mereka, sehingga kami sungguh mendapatkan dukungan luar biasa dari sahabat yang memedulikan kehilangan kami dan yang mengungkapkan kasih dalam wujud nyata.

Dave dan Betty memahami kedukaan dan kebutuhan kami untuk mengalami pemulihan Allah, karena dua dekade sebelumnya anak perempuan mereka bunuh diri. Karena telah mengalami penghiburan dari Tuhan selama bertahun-tahun, mereka pun dapat mendampingi kami dengan penuh kepekaan dan perhatian.

Tindakan kasih seperti itu merupakan contoh langsung dari perkataan Paulus: “Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan … menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur mereka, yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah” (2Korintus 1:3,4).

Ketika Allah menyentuh hati kita yang terluka dengan kedamaian-Nya, kita secara unik diperlengkapi untuk membagikan pengalaman itu kepada orang lain. Alangkah indahnya hadiah yang diberikan dan diterima pada hari Natal! –David McCasland

ALLAH TIDAK MENGHIBUR KITA UNTUK MEMBUAT KITA TERHIBUR
TETAPI UNTUK MEMBUAT KITA MENJADI PENGHIBUR
12 April 2004
Kalah dan Menang

Nats : Terbukalah mata mereka dan mereka pun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka (Lukas 24:31)
Bacaan : Lukas 24:13-35

Sebuah tim football SMU Texas memulai musim kompetisi 2002 dengan memenangkan 57 pertandingan dan berharap memenangkan kejuaraan negara bagian yang belum pernah terjadi sebelumnya, yakni menang untuk kelima kalinya secara berturut-turut. Meskipun kehilangan pelatih lama mereka dan bertanding melawan sekolah-sekolah besar, Celina Bobcats tetap tak terkalahkan dalam musim kompetisi reguler. Tetapi kemudian mereka kalah satu nilai dalam babak perempat final. Rasanya seperti kiamat, meskipun mereka memenangkan 68 pertandingan langsung dan 5 kejuaraan negara bagian selama 7 tahun.

Ketika impian kita runtuh dan hati kita hancur, kita mungkin merasa bahwa semuanya telah lenyap dan tak ada yang tersisa. Karenanya, diperlukan jamahan Allah agar mata kita terbuka dan melihat keagungan rencana-Nya.

Ketika Kristus yang disalib dan bangkit berjalan bersama dua murid menuju Emaus, keduanya sedang menyesali kematian-Nya. “Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel” (Lukas 24:21), demikian kata mereka kepada Yesus yang tidak mereka kenali. Tetapi Yesus berkata, “Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya” (ayat 26). Akhirnya mereka sadar bahwa mereka sedang bercakap-cakap dengan Yesus. Dia hidup!

Saat kita mengalami kegagalan, Tuhan yang bangkit datang untuk menghibur dan memberikan kedamaian kepada kita. Dia menyatakan kemuliaan-Nya serta kemenangan abadi yang menjadi milik kita berkat salib-Nya —David McCasland

PENDERITAAN YANG DIALAMI SAAT INI
DAPAT MEMBAWA KEMENANGAN UNTUK SELAMA-LAMANYA
22 April 2004
Kuasa Tanpa Batas

Nats : (Allah)
Bacaan : Yesaya 40:25-31

“Mengapa bintang tidak jatuh dari langit?” Seorang anak kecil mungkin menanyakan hal itu, tapi seorang ahli astronomi juga menanyakan hal yang sama. Dan keduanya memperoleh jawaban yang pada dasarnya sama: Sebuah kuasa atau energi yang misterius menahan segala sesuatu dan mencegah jagat raya ini jatuh berantakan.

Ibrani 1:3 memberi tahu kita bahwa Yesuslah yang menopang segala yang ada dengan firman-Nya. Dia adalah sumber dari segala energi yang ada, baik potensi ledakan yang terdapat dalam sebuah atom atau air dalam ceret yang mendidih di atas kompor.

Energi itu bukanlah sekadar sebuah kekuatan yang tak berakal. Bukan. Allah adalah pribadi penuh kuasa yang menciptakan segala sesuatu dari ketiadaan, termasuk juga bintang-bintang (Kejadian 1; Yesaya 40:26). Dialah yang membelah Laut Merah dan membebaskan orang Israel dari perbudakan di Mesir (Keluaran 14:21,22). Dialah yang merancang kelahiran Yesus dari seorang perawan (Lukas 1:34,35), dan yang membangkitkan-Nya dari kematian serta mengalahkan maut (2 Timotius 1:10). Allah kita, satu-satunya Allah yang sejati, memiliki kuasa untuk menjawab doa, memenuhi kebutuhan kita, dan mengubah hidup kita.

Maka saat persoalan hidup begitu menekan, saat Anda menghadapi persoalan besar seperti Laut Merah, berserulah kepada Allah yang telah melakukan perbuatan-perbuatan ajaib dan menahan semua benda di tempatnya. Dan ingatlah bahwa tiada sesuatu hal yang mustahil jika kita bersama dengan Allah Yang Mahakuasa —Vernon Grounds

ALLAH LEBIH BESAR DARIPADA MASALAH TERBESAR KITA
23 Mei 2004
Sisi Indah Kematian

Nats : Ya Bapa, Aku mau supaya, di mana pun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, agar mereka memandang kemuliaan-Ku (Yohanes 17:24)
Bacaan : Yohanes 17:20-26

Seorang guru Sekolah Minggu mengajukan serangkaian pertanyaan kepada beberapa anak usia 5 tahun untuk membantu mereka memahami bahwa memercayai Yesus adalah satu-satunya jalan ke surga. Ia bertanya, “Jika Kakak menjual semua harta Kakak dan memberikan uang hasil penjualannya pada gereja, apakah Kakak dapat masuk surga?” “Tidak,” jawab mereka. “Bagaimana jika Kakak menjaga kebersihan di dalam dan sekeliling gereja?” Seorang yang lain menjawab, “Tidak.” “Jika Kakak mengasihi keluarga Kakak, berbaik hati pada hewan, dan memberi permen kepada setiap anak yang Kakak jumpai, akankah Kakak masuk surga?” “Tidak!” tegas seorang anak. Lalu sang guru Sekolah Minggu itu bertanya, “Bagaimana caranya agar Kakak masuk surga?” Seorang anak lelaki berseru, “Kakak harus mati dulu!”

Sang guru tak menduga akan mendapatkan jawaban demikian, tetapi anak itu benar. Alkitab menyatakan bahwa kita semua pasti meninggalkan tubuh kita yang terdiri dari daging dan darah (1 Korintus 15:50-52). Kita semua pasti mati sebelum memasuki hadirat-Nya, kecuali jika kita masih hidup saat Yesus datang kembali.

Pengkhotbah Inggris Charles Haddon Spurgeon menangkap kebenaran ini dalam khotbah bertemakan “Mengapa Mereka Meninggalkan Kita”. Ia menunjukkan bahwa doa Yesus dalam Yohanes 17:24 terjawab setiap kali seorang kristiani meninggal. Ia meninggalkan tubuhnya dan memasuki hadirat Juruselamat, tempat ia dapat memandang kemuliaan-Nya. Sungguh menjadi penghiburan bagi orang percaya! Inilah sisi indah kematian. Apakah Anda pun meyakini hal yang sama? —Herb Vander Lugt

KETIKA ORANG KRISTIANI MENINGGAL
SEBENARNYA MEREKA BARU MEMULAI KEHIDUPAN
24 Mei 2004
Terlalu Banyak Pekerjaan?

Nats : Satu hal telah kuminta kepada Tuhan, … diam di rumah Tuhan seumur hidupku (Mazmur 27:4)
Bacaan : Lukas 10:38-42

Pada dasarnya saya seorang periang. Hampir sepanjang waktu saya dapat melakukan sebanyak mungkin pekerjaan yang diberikan kepada saya. Namun, ada hari-hari yang dipadati oleh begitu banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Jadwal saya penuh dengan rapat, janji-janji, dan tenggat waktu, sampai serasa tiada lagi kesempatan untuk bernapas. Kehidupan ini kerap diisi dengan banyak pekerjaan, kegiatan mengurus keluarga, perbaikan rumah, dan masih banyak tanggung jawab lainnya yang harus diatasi oleh satu orang.

Bila hal itu terjadi pada saya, sebagaimana dapat pula terjadi pada Anda, saya memiliki beberapa pilihan. Saya dapat menarik diri dengan tidak mengerjakan apa pun dan menelantarkan setiap orang yang bergantung kepada saya. Saya dapat terus bekerja keras, sembari mengeluh dan membuat semua orang berharap saya memilih pilihan yang pertama. Atau saya dapat memohon agar cara pandang saya diluruskan kembali dengan cara mengingatkan diri sendiri akan perkataan Yesus kepada Marta (Lukas 10:38-42).

Yesus menegur Marta karena ia “sibuk sekali melayani” (ayat 40). Dia mengingatkan Marta bahwa saudaranya, Maria, telah memilih bagian yang takkan diambil dari padanya (ayat 42). Seperti kebanyakan kita, Marta begitu sibuk melayani sehingga melupakan hal yang terpenting, yakni bersekutu dengan Tuhan.

Apakah Anda begitu sibuk saat ini? Jangan pernah melupakan prioritas Anda. Luangkanlah waktu bersama Tuhan. Dia akan mengangkat beban Anda dan memberi Anda cara pandang yang benar —Dave Branon

UNTUK MENJAGA KESEIMBANGAN DALAM HIDUP ANDA
BERSANDARLAH KEPADA TUHAN
12 Mei 2005
Jatuh Bebas

Nats : Allah yang abadi adalah tempat perlindunganmu, dan di bawahmu ada lengan-lengan yang kekal (Ulangan 33:27)
Bacaan : Ulangan 32:1-14

Dalam nyanyian lembut Musa pada bacaan Alkitab hari ini, Allah digambarkan sebagai induk rajawali yang bisa dipercaya oleh anak-anaknya, bahkan dalam pengalaman yang menakutkan seperti belajar terbang (Ulangan 32:11,12).

Seekor induk rajawali membangun sarang yang nyaman untuk anak-anaknya, melindungi mereka dengan bulu-bulu dadanya sendiri. Tetapi insting pemberian Allah untuk membangun sarang yang aman pun memaksa rajawali-rajawali muda itu untuk segera keluar sarang. Rajawali diciptakan untuk terbang, dan induk rajawali tidak akan melewatkan kewajibannya untuk mengajari anak-anaknya. Karena hanya dengan demikianlah mereka memenuhi kodrat mereka.

Maka suatu hari induk rajawali itu akan mengusik ranting-ranting pada sarang tersebut dan membuatnya menjadi tempat yang tidak nyaman. Kemudian ia akan memungut rajawali muda yang kebingungan itu, melambungkan ke udara, dan menjatuhkannya. Burung kecil itu pun jatuh dengan bebas. Di mana Mama sekarang? Ia tidak jauh. Induknya segera akan menukik ke bawah dan menangkap anak burung itu dengan salah satu sayapnya yang kuat. Ia akan mengulangi latihan ini sampai setiap anaknya mampu terbang sendiri.

Apakah Anda takut untuk jatuh bebas, karena tidak tahu pasti di mana atau seberapa keras Anda akan mendarat? Ingat, Allah akan terbang untuk menyelamatkan Anda dan membentangkan lengan-Nya yang abadi di bawah Anda. Dia pun akan mengajari sesuatu yang baru dan indah melalui hal itu. Jatuh pada lengan Allah bukanlah hal yang perlu ditakuti —JEY

KASIH ALLAH TIDAK MENJAUHKAN KITA DARI PENCOBAAN
TETAPI DENGAN KASIH ITU DIA MENGAWASI KITA
30 Oktober 2005
Marilah Beristirahat

Nats : Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika (Markus 6:31)
Bacaan : Lukas 9:1-10

Menurut kisah yang diceritakan turun- temurun, ketika Rasul Yohanes menjadi mandor di Efesus, ia memiliki hobi menerbangkan merpati. Alkisah, seorang penatua melewati rumahnya ketika ia pulang dari berburu dan melihat Yohanes sedang bermain dengan salah satu burung merpatinya. Dengan lembut penatua ini menegurnya karena ia menghabiskan waktu untuk hal yang sia-sia.

Kemudian Yohanes melihat busur pemburu itu dan mengatakan bahwa talinya kendur. “Ya,” jawab penatua itu, “saya selalu mengendurkan tali busur saya ketika tidak digunakan. Jika tetap dibiarkan kencang, tali ini akan kehilangan daya pegasnya dan bisa menggagalkan perburuan saya.”

Yohanes menjawab, “Saya pun sekarang sedang mengendurkan busur pikiran saya supaya saya bisa lebih baik meluncurkan panah kebenaran Ilahi.”

Kita tidak bisa melakukan pekerjaan secara maksimal apabila syaraf kita tegang dan merasa lesu karena mengalami tekanan terus-menerus. Ketika murid-murid Yesus kembali dari misi pengajaran yang melelahkan, Tuhan tahu bahwa mereka butuh beristirahat. Maka Dia mengajak mereka bersama-Nya mencari tempat yang tenang di mana mereka bisa segar kembali (Markus 6:31).

Hobi, liburan, dan rekreasi yang sehat adalah hal yang sangat vital untuk hidup kudus yang seimbang. Kita akan kehilangan efektivitas apabila terus-menerus mengusahakan disiplin ketat sehingga kita selalu tegang. Jika kita tampaknya tidak bisa santai, Yesus mungkin mengundang kita untuk beristirahat-ke “tempat yang sunyi … dan beristirahat” -DJD

JIKA ORANG KRISTIANI TIDAK BERHENTI DAN BERISTIRAHAT
MUNGKIN MEREKA SEBENARNYA TELAH HANCUR!
8 November 2005
Kembali Kepadamu

Nats : Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu (Yohanes 14:18)
Bacaan : Yohanes 14:1-6

Tahun 1914 Ernest Shackleton memimpin ekspedisi pelayaran ke Antartika, dilanjutkan berjalan ke Kutub Selatan. Ekspedisi itu berjalan sesuai rencana sampai kapal itu terjebak es dan lambung kapal itu hancur. Para awak kapal berhasil mencapai pulau kecil dengan perahu penolong. Setelah berjanji akan datang kembali, Shackleton dan rombongan kecil penyelamat berangkat melintasi 1.280 kilometer lautan berbahaya ke Pulau South Georgia.

Berbekal sekstan [alat pengukur sudut astronomis untuk menentukan posisi kapal di laut] sebagai pemandu, mereka berhasil mencapai pulau itu. Shackleton lalu memimpin rombongannya melintasi medan berbukit curam menuju pelabuhan kapal penangkap ikan paus di sisi lain pulau itu. Di sana, ia mendapatkan kapal untuk menyelamatkan awak kapalnya. Sang pemimpin memegang perkataannya dan kembali menjemput mereka. Tak ada seorang pun yang tertinggal.

Ketika Yesus hendak meninggalkan para murid-Nya, Dia berjanji akan kembali. Dia berkata, “Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada” (Yohanes 14:3). Setelah menanggung sengsara salib, Yesus bangkit dari maut untuk memberi hidup kekal kepada tiap orang yang memercayai-Nya sebagai Juru Selamat. Kini Dia tinggal di dalam kita oleh Roh Kudus, tetapi kelak Dia akan kembali dan mengumpulkan kita dalam hadirat-Nya (1 Tesalonika 4:15-18). Ucapan Yesus dapat dipercaya.

Jika Anda milik-Nya, Dia akan kembali untuk Anda! -HDF

KEDATANGAN KRISTUS YANG KEDUA
SEPASTI KEDATANGAN-NYA YANG PERTAMA
6 Maret 2006
Ungkapan Terima Kasih

Nats : [Allah] menghibur kami … sehingga kami sanggup menghibur mereka yang berada dalam bermacam-macam penderitaan (2Korintus 1:4)
Bacaan : 2Korintus 1:3-11

Selama lebih dari tiga tahun, keluarga kami merasakan dukacita sekaligus penghiburan sejak kematian putri kami, Melissa.

Pelayanan penghiburan itu digambarkan dalam 2 Korintus 1, di mana Paulus menulis, “Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh kemurahan dan Allah sumber segala penghiburan, yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur mereka yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah” (ayat 3,4).

Beberapa tahun ini, saya telah membagikan kepada pembaca Renungan Harian apa yang telah kami pelajari dari Allah dan apa yang kami pelajari tentang Dia melalui kematian Melissa. Keluarga kami telah mengalami jamahan penghiburan yang Dia berikan melalui firman dan umat-Nya.

Ketika saya menulis tentang karya penghiburan Allah melalui tragedi ini, beratus-ratus pembaca mengirimi kami surat, e-mail, foto, nyanyian, puisi, lukisan, dan banyak lagi, untuk menyatakan simpati, kasih, dan penghargaan mereka. Allah memberikan penghiburan bagi kami, dan saya pun membagikannya. Allah memberikan penghiburan kepada orang lain, dan mereka juga membagikannya. Dalam kasih, umat Allah telah menunjukkan bagaimana pelayanan penghiburan Allah dipraktikkan. Terima kasih untuk perhatian Anda sekalian.

Jika kita telah dihibur oleh Allah, kita pun dapat turut mengambil bagian dalam pelayanan yang mulia, yaitu menghibur orang lain –JDB

MEREKA YANG PERNAH MENDERITA
LEBIH SANGGUP MENOLONG ORANG YANG MENDERITA
2 Mei 2006
Naomi

Nats : Sebab itu perempuan-perempuan berkata kepada Naomi, “Terpujilah Tuhan, yang telah rela menolong engkau pada hari ini dengan seorang penebus” (Rut 4:14)
Bacaan : Rut 4:13-22

Seorang bijak pernah berkata kepada saya, “Jangan cepat menilai apakah sesuatu itu berkat atau kutuk bagi kita.” Kisah Naomi mengingatkan saya akan hal tersebut.

Nama Naomi berarti “kegembiraan saya”. Namun, ketika hal-hal buruk menimpanya, Naomi ingin mengganti namanya untuk menyesuaikan diri dengan keadaan yang ia alami. Setelah suami dan putra-putranya meninggal, Naomi menyimpulkan, “Tangan Tuhan teracung terhadap aku!” (Rut 1:13). Ketika orang-orang menyapanya, ia berkata, “Janganlah sebutkan aku Naomi; sebutkanlah aku Mara, sebab Yang Mahakuasa telah melakukan banyak yang pahit kepadaku” (ayat 20).

Naomi tidak menilai keadaannya berdasarkan identitasnya sebagai pengikut dari satu-satunya Allah yang sejati dan yang telah menyatakan kasih yang tak kunjung padam kepada bangsa-Nya. Ia justru melakukan hal yang cenderung dilakukan oleh sebagian besar dari kita: Ia menilai Allah berdasarkan keadaan yang ia alami. Dan ia salah menilai. Tangan Tuhan tidak teracung kepadanya. Kenyataannya, Naomi justru mendapat harta Allah yang belum ia temukan. Meskipun Naomi kehilangan suami dan kedua putranya, ia diberi sesuatu yang sama sekali tak diduganya — seorang menantu perempuan yang setia dan seorang cucu yang akan menurunkan Juru Selamat.

Dari kisah hidup dan pengalaman Naomi, kita dapat melihat bahwa kadang-kadang hal terburuk yang menimpa kita dapat membuka pintu bagi Allah untuk memberikan hal yang terbaik dalam hidup kita –JAL

MAKSUD ALLAH BAGI PERISTIWA YANG TERJADI PADA HARI INI
MUNGKIN TIDAK AKAN TAMPAK SEBELUM ESOK HARI TIBA
24 Mei 2006
Dapatkah Kita Bersukacita?

Nats : Namun aku akan bersorak-sorak di dalam Tuhan, … Allah Tuhanku itu kekuatanku (Habakuk 3:18,19)
Bacaan : Habakuk 3:17-19

Saya tidak pernah lupa pada pertanyaan yang diajukan oleh pemimpin pendalaman Alkitab kami, “Apa yang paling kautakutkan akan menjadi ujian terberat bagi imanmu kepada Tuhan?” Saat itu kami sedang mempelajari Habakuk 3:17,18, yang menceritakan bagaimana nabi itu berkata bahwa meskipun Allah mengizinkan penderitaan atau kehilangan terjadi, ia tetap akan bersukacita.

Sebagai seorang wanita lajang usia dua puluhan, saya menjawab, “Saya tidak tahu apakah saya dapat menahan kepedihan kalau kehilangan orangtua.” Namun, hari itu saya berkata kepada Allah bahwa meskipun mereka meninggal, saya akan bersukacita di dalam Dia. Dan saya segera menyadari bahwa lebih mudah mengatakan kalimat itu daripada melakukannya.

Sebulan kemudian, Ayah didiagnosa menderita sakit jantung dan takkan hidup lama. Ia belum menerima Yesus sebagai Juru Selamat, jadi saya meminta agar Allah tidak membiarkannya meninggal sebelum mengenal Dia. Tahun itu, tidak saja Ayah yang meninggal, tetapi juga Ibu yang sudah menjadi orang percaya. Saya tidak tahu apakah doa saya untuk Ayah dikabulkan. Saya tak dapat bersukacita; dan bertanya-tanya apakah Allah mendengar doa saya.

Pada saat saya menggumulkan keraguan ini dengan-Nya, saya mengalami bagaimana Tuhan menjadi “tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan” (Mazmur 46:2). Saya pun menemukan harapan bahwa Allah, “Hakim segenap bumi,” akan melakukan hal yang tepat untuk setiap orang (Kejadian 18:25).

Kita dapat bersukacita — bila kita bersukacita di dalam Tuhan, tempat perlindungan kita yang kuat dan Hakim yang adil –AMC

SETIAP ORANG HARUS MEMILIH — KRISTUS ATAU HUKUMAN
28 Oktober 2006
Kebaikan dari Kejahatan

Nats : Kita tahu sekarang bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah (Roma 8:28)
Bacaan : Roma 8:18-28

Peristiwa hidup dapat menantang kepercayaan kita pada Kitab Suci. Roma 8:28 mengajarkan bahwa Allah dapat mendatangkan kebaikan dari “segala sesuatu”. Namun, di bulan Agustus 2004 “segala sesuatu” tersebut agaknya sulit untuk diterima. Beberapa waktu lalu, teman saya menghubungi saya dan orang lain untuk memohon doa bagi anak laki-laki serta tunangannya yang hilang. Itu sama sekali bukan watak Jason dan Lindsay. Kami takut terjadi hal yang paling buruk. Beberapa hari kemudian, mayat-mayat mereka ditemukan, hanya kurang dari dua minggu sebelum pernikahan mereka.

Dalam hari-hari yang penuh kesulitan, “segala sesuatu” tersebut seakan-akan tak tertanggungkan, termasuk aksi berdarah dingin tersebut. Namun, yang amat mengherankan adalah keluarga korban tetap percaya bahwa Yesus Kristus akan memecahkan masalah ini. Mereka sangat yakin Allah akan berbaik hati mendatangkan kebaikan dari kejahatan besar yang mereka alami.

Beberapa bulan berikutnya, terjadilah kisah yang sulit dipercaya. Melalui surat-surat, e-mail, dan telepon, kami mendengar bahwa orang-orang yang menyaksikan teladan ketabahan keluarga tersebut melalui liputan media massa, telah datang kepada Kristus. Nasib kekal orang-orang diubahkan dan hidup mereka dimenangkan melalui kesaksian Jason, Lindsay, dan keluarga mereka.

Tidak ada yang dapat membenarkan pembunuhan itu atau menggantikan kehidupan berharga yang telah dipangkas. Akan tetapi, sekali lagi kita diajak untuk berharap, karena kita selalu akan melihat bahwa Allah mampu mendatangkan kebaikan dari kejahatan -WEC

ALLAH DAPAT MENGUBAH TRAGEDI MENJADI KEMENANGAN
18 Desember 2006
Belajar Meratap

Nats : Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap (Ratapan 3:21)
Bacaan : Ratapan 3:19-27

Pada tanggal 14 Februari 1884, istri Theodore Roosevelt, Alice, meninggal setelah melahirkan putrinya, yang kemudian juga diberi nama Alice. Roosevelt sangat sedih atas kepergian istrinya, sehingga ia tidak pernah membicarakannya lagi. Namun, hal-hal yang berkaitan dengan Alice menghantui keluarganya. Karena bayi yang baru saja lahir memiliki nama yang sama dengan ibunya, maka ia dipanggil “Sister”. Ia tidak pernah dipanggil dengan nama Alice. Pada hari Valentine, hari bagi orang-orang terkasih, tidak banyak anggota keluarga Roosevelt yang merasa ingin merayakannya ataupun merayakan ulang tahun Sister. Hati yang hancur membuat banyak keinginan hati tertahan dan membatu.

Mengubur perasaan tidak akan membantu, tetapi ratapan yang disertai doa dapat membantu kita. Hati Yeremia hancur karena ketidaktaatan bangsa Israel dan pembuangan Babel yang menyertainya. Ingatan akan kehancuran Yerusalem menghantuinya (Ratapan 1-2). Namun, ia sudah belajar bagaimana caranya meratap. Ia menyebutkan apa yang menyebabkan dukacitanya, mulai berdoa, dan membiarkan air matanya mengalir. Dengan segera, fokusnya teralih dari kehilangan yang ia alami pada rahmat pemeliharaan Tuhan yang selalu siap sedia. “Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu” (3:22,23). Ratapan dapat membuka jalan bagi kita untuk mengucap syukur.

Dengan belajar meratap kita dapat mendapatkan pandangan yang baru terhadap suatu harapan dan kita dapat memulai proses penyembuhan serta pemulihan –HDF

DUKACITA ITU SENDIRI ADALAH OBAT –Cowper
8 Agustus 2007
Bunyi Sirine

Nats : Ia yang duduk di atas takhta itu berkata, “Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!” (Wahyu 21:5)
Bacaan : Wahyu 21:1-5

Pada suatu sore yang cukup tenang dan normal di bulan September yang hangat, saya sedang menikmati pertandingan sepak bola anak lelaki saya yang duduk di bangku SMA. Tiba-tiba suasana tersebut dibuyarkan oleh suara sirine yang khas dan menggelisahkan. Lengkingan suaranya memecahkan suasana yang menyenangkan, dan menuntut perhatian saya. Menurut penyanyi Don Henley, suara sirine biasanya berarti “seseorang sedang dalam kondisi gawat” atau “seseorang akan dipenjara”. Ia benar. Dalam kehidupan seseorang, “bunyi sirine” ini bisa saja berarti penegakan hukum, tetapi bisa juga berarti penyelamatan nyawa seseorang. Satu langkah saja dalam kondisi ini sudah bisa membuat keadaan menjadi semakin buruk.

Saat saya tidak memerhatikan pertandingan yang sedang berlangsung dan hanya memikirkan suara sirine yang menghilang di kejauhan, saya berpikir bahwa sirine menjadi pengingat akan sebuah kenyataan yang kuat: Dunia kita sudah hancur. Entah sirine itu “berbunyi” karena seseorang melakukan kejahatan atau ditimpa tragedi, sirine mengingatkan kita bahwa sesuatu benar-benar salah dan perlu dibenarkan.

Pada saat-saat seperti itu, “sirine” membantu kita untuk mengingat bahwa Allah melihat dunia kita dengan kehancurannya, dan berjanji bahwa suatu hari kelak Dia akan meniadakan yang lama dan “menjadikan segala sesuatu baru” (Wahyu 21:5). Janji tersebut memberikan kekuatan kepada kita saat menjalani masa-masa sukar dalam hidup kita dan memberikan bisikan penghiburan-Nya — bisikan yang dapat diembuskan meskipun ada suara sirine –WEC

BISIKAN PENGHIBURAN ALLAH
MENENANGKAN KEBISINGAN PENCOBAAN KITA
24 Agustus 2007
Allah Turut Menangis

Nats : Berharga di mata Tuhan kematian semua orang yang dikasihi-Nya (Mazmur 116:15)
Bacaan : Mazmur 116

Apa yang dimaksud dalam Mazmur 116:15, “Berharga di mata Tuhan kematian semua orang yang dikasihi-Nya”? Tentunya Allah tidak menemukan kesenangan dari kematian anak-anak-Nya! Jika ya, mengapa pemazmur memuji Allah karena Dia telah menghindarkannya dari kematian? Lalu, mengapa Yesus merintih dan mencucurkan air mata saat melihat dukacita di kubur Lazarus (Yohanes 11:33-35)? Saya setuju dengan para ahli Kitab Suci yang menerjemahkan Mazmur 116:15 menjadi “Mahal di mata Tuhan kematian semua orang yang dikasihi-Nya.”

Di dunia ini, kematian Anda akan segera dilupakan semua orang, kecuali jika Anda seorang selebriti. Mungkin, yang tak akan melupakan Anda hanya sekelompok teman dan sahabat. Namun, Yesus menunjukkan kepada kita bahwa Allah juga merasakan penderitaan serta kepedihan yang dirasakan oleh mereka yang kehilangan. Bahkan, kematian orang-orang percaya yang rendah hati bisa sangat menyakiti hati-Nya.

Baru-baru ini, pemikiran ini muncul di benak saya saat menghadiri pemakaman saudara saya, Tunis. Keluarga dan pendetanya memuji belas kasihan, kebaikan, dan kemurahan hatinya. Sesudah itu, orang-orang yang mengenalnya sebagai pengusaha membicarakan setiap kebaikannya. Meskipun ia hanya satu di antara sekian banyak pengumuman kematian di koran, kematiannya merupakan sebuah kehilangan besar bagi kami yang mengenal dekat dan mencintainya. Dan, sungguh melegakan ketika mengetahui bahwa saat Allah menerima kematiannya, Dia turut merasakan kepedihan kita. Dari situ, saya percaya Dia juga sedang mencucurkan air mata bersama kita –HVL

ALLAH TURUT MERASAKAN PENDERITAAN KITA
3 Oktober 2007
Lensa yang Retak

Nats : Tetapi kepada-Mulah, ya Allah, Tuhanku, mataku tertuju; pada-Mulah aku berlindung, jangan campakkan aku! (Mazmur 141:8)
Bacaan : Mazmur 141

Saya mulai mengenakan kacamata sejak berusia 10 tahun. Saya masih memerlukannya hingga saat ini karena mata saya yang sudah berumur 50 tahun lebih itu semakin lemah. Saat masih muda, saya berpikir bahwa kacamata itu mengganggu, terutama saat saya berolahraga. Suatu ketika, lensa kacamata saya retak saat saya sedang bermain softball. Dan, saya harus menunggu selama beberapa minggu untuk memperoleh gantinya. Selama masa penantian itu, semua yang saya lihat tampak miring dan tak jelas bentuknya.

Dalam kehidupan ini, dukacita hampir sama dengan lensa kacamata yang re-tak tadi. Dukacita menciptakan konflik di dalam diri kita, mengenai apa yang kita alami dan apa yang kita yakini. Dukacita dapat mengaburkan perspektif tentang hidup — dan tentang Allah. Di saat seperti itu, kita membutuhkan Allah untuk memberi lensa baru yang dapat menolong kita melihat kembali dengan jelas. Penglihatan yang jelas itu biasanya dimulai pada saat kita mengarahkan pandangan kepada Tuhan. Sang pemazmur mendorong kita untuk melakukan ini: “Kepada-Mulah, ya Allah, Tuhanku, mataku tertuju; pada-Mulah aku berlindung, jangan campakkan aku” (141:8). Melihat Allah dengan jelas dapat menolong kita melihat peristiwa-peristiwa hidup dengan lebih jelas.

Saat kita menujukan pandangan kepada Tuhan di tengah-tengah dukacita dan pergumulan, kita akan memperoleh penghiburan dan pengharapan dalam kehidupan kita sehari-hari. Dia akan menolong kita untuk dapat melihat kembali semuanya dengan jelas –WEC

DENGAN MEMANDANG KRISTUS
SEMUA HAL AKAN BERADA DALAM PERSPEKTIF YANG BENAR
9 Januari 2008
Aji Mumpung?

Nats : Dari orang fasik timbul kefasikan. Tetapi tanganku tidak akan memukul engkau (1Samuel 24:14)
Bacaan : 1Samuel 24:1-23

Lagi mumpung, siapa yang tidak senang? Mumpung ada kesempatan, mumpung kaya, mumpung berkuasa, mumpung banyak koneksi, mumpung dibutuhkan, mumpung sedang populer, mumpung masih muda, cantik, ganteng. Pendek kata, aji mumpung sungguh sayang bila dilewatkan. Namun, apakah semua “mumpung” ini baik untuk diambil?

Seperti pengalaman Daud. Suatu kali ia berada pada situasi “menang angin”. Saul yang berambisi membunuhnya sedang buang hajat (ayat 4), sehingga mudah diserang. Para pengikutnya mendorong Daud agar segera menghabisi Saul, mumpung ada kesempatan. Namun, Daud tak terpengaruh. Ia memegang prinsip: “Dijauhkan Tuhanlah kiranya dari padaku untuk melakukan hal yang demikian … kepada orang yang diurapi Tuhan” (ayat 7).

Kita bisa belajar dua hal dari pengalaman Daud. Pertama, perlunya prinsip dalam pengambilan keputusan. Kedua, tidak memanfaatkan situasi lemah orang lain. Pokok masalahnya bukan pada memanfaatkan atau mengabaikan kesempatan, namun bagaimana menyikapi kesempatan. Ini jelas soal nilai hidup, bahkan lebih dalam lagi, inilah spiritualitas.

Mumpung, tidak serta-merta jelek sehingga harus ditolak. Kesempatan kerap hanya datang sekali, bila diabaikan akan menguap, dan belum tentu kembali. Namun, bila situasi mumpung itu dilandaskan pada kelemahan situasi orang lain (sekalipun itu musuh), maka masalahnya jadi lain! Orang yang berani untuk tidak memanfaatkan kelemahan orang lain, akan semakin utuh karena ia semakin menghargai manusia dalam segala kemanusiawiannya –DKL

INTEGRITAS TANPA PENGETAHUAN TIADA GUNA
PENGETAHUAN TANPA INTEGRITAS BERBAHAYA — (Samuel Johnson)
30 Januari 2008
Seperti Anjing Mati

Nats : Demikianlah Mefiboset diam di Yerusalem, sebab ia tetap makan sehidangan dengan raja. Adapun kedua kakinya timpang (2Samuel 9:13)
Bacaan : 2Samuel 9:1-13

Namanya Mefiboset. Ia timpang karena terjatuh dari gendongan pengasuhnya saat berusia lima tahun. Selanjutnya ia dibesarkan di Lodebar, sebuah tempat yang tandus tanpa padang rumput. Sungguh cocok dengan kondisi hidupnya. Ia meratap dengan menyebut dirinya seperti anjing mati, binatang najis yang telah kehilangan nyawa (ayat 8).

Suatu saat, Daud, raja Israel dan sahabat ayahnya, memanggilnya ke istana. Mengingat kasih dan persahabatannya dengan Yonatan, ayah Mefiboset, Daud memperlakukan Mefiboset sebagai salah seorang anaknya. Harta milik dan hak-hak pria timpang itu dipulihkan. Selanjutnya Mefiboset menetap di Yerusalem, kota damai sejahtera, dan senantiasa makan sehidangan dengan raja.

Mefiboset mewakili kita semua, orang-orang yang timpang akibat dosa. Kita terbuang dari hadapan Tuhan dan tinggal di Lodebar, menjalani kehidupan yang gersang tanpa pengharapan. Seperti Mefiboset, kita juga tak ubahnya anjing mati karena upah dosa adalah maut.

Tindakan Daud, di sisi lain, secara kuat menggambarkan anugerah Allah. Allah menebus kita dari dosa bukan karena perbuatan baik kita, melainkan semata-mata karena kasih-Nya yang besar. Dia mengangkat kita sebagai anak-Nya dan memberi damai sejahtera. Dan kita diizinkan untuk makan sehidangan dengan-Nya, bersekutu dengan Raja segala raja, dan memperoleh kehidupan yang kekal!

Anugerah Allah mendatangkan perubahan hidup yang sangat drastis. Atas semuanya itu, kita patut menjalani kehidupan baru ini dengan penuh sukacita dan ucapan syukur –ARS

DOSA MEMBINASAKAN
ANUGERAH MENGHIDUPKAN
22 Februari 2008
Bang Salim

Nats : … supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara … dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi (Kejadian 1:26)
Bacaan : Kejadian 1:26-31

Pertemuan dengan Bang Salim di penangkaran penyu sisik di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, membuat saya termenung. Sosoknya sederhana dan jauh dari gelegar retorika. Ia menceritakan bagaimana telur penyu sisik diambil dari Pulau Peteloran, dilindungi dari hama, ditunggu sampai menetas semi alamiah, di-hindarkan dari predator, sampai akhirnya tukik (bayi penyu sisik) dilepaskan ke laut bebas.

Namun, sorot mata yang tajam tak dapat menyembunyikan komitmennya yang teguh. Selama lebih dari 19 tahun, ia berhasil melepas 6.000 tukik per tahun. Tak hanya itu. Ia juga melestarikan hutan bakau (mangrove) seluas 39,5 ha di Kepulauan Seribu. Bertahun-tahun, seorang diri dan dengan biaya sendiri, ia melakukan penjagaan pulau konservasi dan taman laut seluas 2.475 ha dengan perahu sederhananya. Tak salah jika akhirnya pemerintah menganugerahkan penghargaan Kalpataru 2006 kepadanya.

Manusia diciptakan dengan keistimewaan: serupa dan segambar dengan Sang Pencipta (ayat 26). Keistimewaan ini diikuti oleh tanggung jawab yang sangat besar dan mulia, yaitu menjaga dan memelihara alam ciptaan-Nya (ayat 26-28). Tanpa banyak bekal teori, Bang Salim telah mewujudkan ketaatan yang konkret atas ayat ini.

Selain bersyukur akan kekayaan tanah air, kita juga perlu sadar akan tanggung jawab kita. Mari kita cintai negeri ini dengan memelihara dan menjaga kelestarian alam sekitar kita, sejauh yang kita mampu. Tuhan sudah memberi kita sangat banyak. Mari kita rawat dan jagai semuanya sebagai wujud ketaatan kita kepada-Nya –WP

SANG PENCIPTA TELAH MENGANUGERAHKAN ALAM INDAH PERMAI
DENGAN PENUH BAKTI, MARI PELIHARA BUMI KITA INI!
20 Maret 2008
Sang Pengkhianat

Nats : “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, salah seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku.” Murid-murid itu … ragu-ragu siapa yang dimaksudkan-Nya (Yohanes 13:21,22)
Bacaan : Yohanes 13:21-30

Wajah para murid tampak tegang. Masing-masing menaruh curiga; siapa di antara mereka yang bakal jadi pengkhianat. “Yang jelas bukan aku,” pikir mereka. Hanya Yohanes yang menampakkan raut wajah tenang. Duduk bersandar di kanan Yesus, hati murid yang dikasihi Yesus ini peka akan pergumulan Gurunya. Inilah suasana yang tergambar dalam lukisan The Last Supper karya Leonardo Da Vinci. Dalam karyanya itu, Da Vinci ingin memotret reaksi para murid setelah Yesus berkata bahwa salah satu dari mereka akan berkhianat.

Sebenarnya, siapakah yang mengkhianati Yesus malam itu? Apakah hanya Yudas? Tidak! Petrus pun menyangkali-Nya (Yohanes 18:12-27). Bahkan Matius 26:56 menyatakan, “Semua murid itu meninggalkan Dia dan melarikan diri.” Mereka yang seharusnya menjadi pengikut setia, justru bersembunyi dan menyelamatkan diri sendiri. Ini juga sebuah bentuk pengkhianatan. Kita berkhianat bukan hanya saat membocorkan informasi kepada lawan, melainkan juga saat bersikap tidak loyal terhadap orang yang seharusnya kita bela. Malam itu, semua murid Yesus berkhianat!

Kita pun bisa terjerumus mengkhianati Yesus, jika ada hal-hal lain yang lebih kita bela daripada diri-Nya. Tidak sedikit orang mengesampingkan imannya demi mengejar karier, mendapat teman hidup, memperoleh kesembuhan, atau menikmati kesenangan duniawi. Ada orang yang enggan dikenal sebagai orang kristiani, karena takut kehilangan teman atau peluang bisnis. Kristus telah memilih kita untuk menjadi sahabatsahabat-Nya, mari kita terus jagai hati dan hidup kita agar terus setia kepada-Nya –JTI

KESETIAAN DIUJI BUKAN PADA MASA TENANG
NAMUN JUSTRU PADA MASA SUKAR
16 April 2008
Pantang Mundur

Nats : Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap bahwa aku telah menangkapnya, tetapi inilah yang kulakukan: Aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapank (Filipi 3:13)
Bacaan : Filipi 3:10-16

Setiap kali saya menunggu untuk naik pesawat, ada dua hal yang menarik perhatian saya di lapangan bandara. Pertama, bendera merah yang berfungsi menunjukkan arah angin. Kedua, kendaraan berat yang berfungsi mendorong mundur pesawat. Kedua hal ini menyadarkan saya bahwa sebuah pesawat dapat terbang karena dua hal. Ia harus melawan arus angin agar dapat terbang. Kedua, ia harus maju terus agar sampai ke tujuan. Bila sudah terbang, maka sebuah pesawat tidak dapat dan tidak mungkin mundur; berhenti sedetik saja ia akan jatuh.

Demikian juga dengan kehidupan iman orang kristiani. Pertama, seorang anak Tuhan harus berani melawan arus dunia yang tidak benar. Kedua, sebagai anak Allah ia tidak boleh mundur, imannya tidak boleh mudah kendur dan putus asa karena adanya tantangan dan hambatan.

Inilah pula rahasia kemenangan Paulus. Seburuk apa pun masa lalunya, ia tak menoleh ke belakang dan berhenti di situ. Ibarat pesawat, ia terus maju dan terbang semakin tinggi bersama Tuhan. Dan beginilah ia melakukannya,”Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman dan membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah” (Ibrani 12:2).

Jadi, inilah yang harus kita miliki sejak hari ini; sikap optimis, maju terus pantang mundur. Inilah sikap iman yang penuh harapan, yang terus memusatkan perhatian kepada Yesus, terfokus pada tujuan yang mulia dan kekal-ACH

BERANI TAMPIL BEDA, DAN JANGAN PERNAH UNDUR
24 April 2008
Berdiri di Belakang

Nats : Andreas mula-mula menemui Simon, saudaranya, dan ia berkata kepadanya, “Kami telah menemukan Mesias (artinya: Kristus)
Bacaan : Yohanes 1:35-42

Rela dan tetap bersukacita dengan posisi “di belakang layar”, sungguh tidak gampang. Terlebih di dunia di mana persaingan yang terjadi begitu ketat. Termasuk di gereja. Banyak orang berlomba-lomba untuk menjadi yang terkemuka. Bahkan, untuk itu tidak jarang orang memakai “gaya katak”: ke atas menyembahnyembah, ke bawah menendang-nendang.

Namun, Andreas tidak demikian. Ia adalah salah satu dari dua murid Tuhan Yesus yang mula-mula (ayat 40). Ia juga yang membawa Petrus kepada Tuhan Yesus (ayat 42). Akan tetapi dalam perjalanan selanjutnya, justru Petrus yang lebih banyak ditonjolkan. Berulang kali Alkitab menyebut Andreas dengan embel-embel “saudara Simon Petrus” — menunjukkan bahwa Petrus selalu membayanginya.

Ia juga tidak termasuk murid yang utama. Ketika Tuhan Yesus naik ke gunung untuk dimuliakan, yang dibawa serta ke sana adalah Petrus, Yohanes, dan Yakobus (Matius 17:1). Begitu juga ketika Dia menyembuhkan anak perempuan Yairus (Lukas 8:51) dan ketika Dia di Taman Getsemani (Markus 14:33).

Andreas bisa saja menyesalkan hal ini. Sebagai murid mula-mula dan yang membawa Petrus, ia punya alasan untuk berharap mendapat tempat utama dalam kelompok para murid. Namun, rupanya posisi terkemuka, kedudukan, dan kehormatan tidak pernah menjadi target Andreas. Baginya, yang penting adalah mengikuti dan melayani Gurunya sebaik mungkin. Andreas adalah contoh orang yang tidak mementingkan kedudukan atau status nomor satu. Sebaliknya, dengan rendah hati dan tulus, ia rela berdiri di belakang -AYA

KERENDAHAN HATI ADALAH AWAL KEHORMATAN
13 September 2008
Dibongkar!

Nats : Hati yang patah dan remuk, tak akan Kaupandang hina, ya Allah (Mazmur 51:19)
Bacaan : 2Samuel 12:1-14

Daud adalah seorang yang berkenan di hati Tuhan, tetapi sekalipun demikian Daud tetap manusia biasa yang tak lepas dari kesalahan. Salah satu kesalahan Daud yang paling fatal adalah pada saat ia merebut Batsyeba yang notabene istri dari Uria, salah seorang prajuritnya. Untuk mewujudkan keinginannya, Daud menggunakan cara yang jahat, yaitu dengan sengaja menempatkan Uria di garis depan medan pertempuran sehingga ia mati terbunuh.

Skandal yang sangat memalukan ini kemudian dibongkar oleh Nabi Natan. Pada saat dosanya dibongkar, sebetulnya Daud bisa saja menjadi tersinggung dan marah atas kelancangan Nabi Natan. Bahkan dengan mudah ia juga bisa memerintah prajuritnya untuk menghabisi Nabi Natan, sehingga ia tidak akan kehilangan muka. Tetapi Daud tidak melakukannya. Ia juga tidak mencoba berdalih dan mencari kambing hitam atas hal yang telah diperbuatnya. Sebaliknya, dengan hati hancur Daud mengakui dosa besar yang telah diperbuatnya.

Terkadang Tuhan memakai orang lain untuk menegur dan membongkar dosa yang telah kita buat. Yang penting, bagaimana kita meresponi teguran yang demikian. Biarlah kita mau belajar rendah hati dan dengan hati hancur bersedia mengakui kesalahan-kesalahan kita. Sebab hanya dengan begitu kita akan mendapat pemulihan dan pengampunan Allah. Ingatlah bahwa sebuah kedewasaan rohani bukan berarti sempurna tanpa cacat. Kedewasaan rohani adalah sikap seseorang yang dengan hati besar berani jujur dan terbuka untuk mengakui setiap kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat -PK

KEDEWASAAN ROHANI SESEORANG TERLIHAT
PADA WAKTU DOSANYA DIBONGKAR DAN DITEGUR

Gerak di Tempat

Nats : Seperti pintu berputar pada engselnya, demikianlah si pemalas di tempat tidurnya (Amsal 26:14)
Bacaan : Amsal 26:13-16

Seperti apakah si pemalas? Ia diumpamakan sebagai daun pintu yang berputar hanya pada engselnya, bergerak tetapi tidak berjalan alias “gerak di tempat”. Serupa pula dengan kursi goyang, orang yang duduk di atasnya bisa merasa seakan-akan sudah mencapai jarak yang jauh, padahal ia tak ke mana-mana. Tidak heran bila kursi goyang disebut juga “kursi malas”.

Allah tidak senang kepada orang yang malas. Bacaan Alkitab kita menuntun pada pengertian siapakah orang yang malas itu. Si pemalas adalah orang yang bila diberi tugas suka berdalih (Amsal 26:13). Si pemalas adalah orang yang tak mau bergerak maju sekalipun sudah didorong oleh orang lain (ayat 16). Si pemalas adalah orang yang bahkan malas melakukan sesuatu yang sesungguhnya bermanfaat bagi dirinya sendiri (ayat 15). Seperti seseorang yang malas makan mangga, kecuali orang lain mengupaskan kulitnya.

Bagaimana caranya agar kita tidak menjadi malas? Milikilah tujuan hidup yang jelas, sehingga kita punya semangat untuk memaknai hari-hari kita. Milikilah motivasi yang tulus, supaya kita dapat merasakan sukacita saat hendak mencapai tujuan. Milikilah perencanaan yang benar, agar kita menjadi orang-orang yang bijaksana karena tidak menyia-nyiakan waktu hidup kita. Mari menjadi anak-anak Tuhan yang rajin dan penuh semangat dalam hidup ini, seperti apa yang telah Paulus lakukan, “Aku … berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus Yesus” (Filipi 3:14). Selamat tinggal kemalasan! -ACH

DARI SETIAP NAMA ORANG YANG DAPAT KITA SEBUT BERHASIL
TAK ADA YANG BERANGKAT DARI HIDUP YANG MALAS

SOCRATES DAN PENGETAHUANNYA

Di yunani kuno, Socrates terkenal memiliki pengetahuan yang tinggi dan sangat terhormat. Suatu hari seorang kenalannya bertemu dengan filsuf besar itu dan berkata, “ Tahukah Anda apa yang saya dengar tentang teman Anda?”

“Tungggu beberapa menit,” Socrates menjawab. “Sebelum Anda menceritakan apapun pada saya, saya akan memberikan suatu test sederhana. Ini disebut Triple Filter Test.”

“Triple Filter?”

“Benar,” kata Socrates. “Sebelum kita bicara tentang teman saya, saya kira bagus kalau kita mengambil waktu beberapa saat dan menyaring apa yang akan Anda katakan. Itulah sebabnya saya menyebutnya triple filter test.”

Filter pertama adalah KEBENARAN. “Apakah Anda yakin sepenuhnya bahwa yang akan Anda katakan pada saya benar?”

“Tidak,” jawab orang itu, “sebenarnya saya hanya mendengar tentang itu.”

“Baik,” kata Socrates. “ jadi Anda tidak yakin bila itu benar. Baiklah sekarang saya berikan filter yang kedua, filter KEBAIKAN. Apakah yang akan Anda katakan tentang teman saya itu sesuatu yang baik?”

“Tidak, malah sebaliknya …”

“Jadi,” Socrates melanjutkan, “Anda akan berbicara tentang sesuatu yang buruk tentang dia, tetapi Anda tidak yakin apakah itu benar. Anda masih memiliki satu kesempatan lagi karena masih ada satu filter lagi, yaitu filter KEGUNAAN. Apakah yang akan Anda katakan pada saya tentang teman saya itu berguna bagi saya?”

“Tidak, samasekali tidak.”

“Jadi,” Socrates menyimpulkan, “ bila Anda ingin mengatakan sesuatu yang belum tentu benar, buruk dan bahkan tak berguna, mengapa Anda harus mengatakannya pada saya?”

Itulah mengapa Socrates adalah filsuf besar dan sangat terhormat. Kawan-kawan, gunakan triple filter test setiap kali Anda mendengar sesuatu tentang kawan dekat atau kawan yang Anda kasihi.
 
    Temperatur

AC dipakai untuk merubah temperatur sehingga kita dan orang-orang sekliling kita merasa nyaman. Namun sebenarnya ada hal yang lebih poenting untuk diubah, yakni tempermen kita. Supaya orang-orang ekitar kita merasa nyaman dan kita oun merasa nymana.
– Robert C. Shannon, 1000 Windows, (Cincinnati, Ohio: Standard Publishing Company, 1997).

From → Uncategorized

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: